Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.(Hamka)
Pada saat kita bersama dengan orang yang kita sayangi, kita selalu memarahinya, menyakitinya, menyinggungnya, dan masih banyak lagi. Padahal kita tau kalau kita begitu mencintainya.
Terkadang setelah kita melakukan kesalahan karena telah menyakitinya, kita merasa sakit dan bertanya "kenapa aqu melakukannya?"
itulah penyesalan yang selalu datang belakangan. Sebenarnya seperti apa itu cinta? apakah harus selalu menyakiti? apakah harus selalu menyayangi? terkadang kedua hal ini menjadi satu, dan kita dibingungkan dengan teka - teki ini. Tapi yang pasti, kita menyakiti perasaannya bukan berarti kita sudah tidak sayang lagi dengan dirinya.. kita melakukannya karena kita semakin sayang dengannya, dan kita ga bisa hidup tanpa kehadirannya disisi kita walaupun harus selalu saling menyakiti.
Tapi sampai kapan kita mampu bertahan? Yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah perasaan sayang yang ada di dalam diri kita sendiri. Kalau kita memang saling menyayangi, seperti apapun pertengkaran yang terjadi, seperti apapun perbedaan dan pertentangan diantara kita, perasaan sayang akan mengubur itu semua dalam ikatan penuh kasih sayang. Kita akan tetap bisa menjaga perasaan ini sampai mungkin dipisahkan oleh waktu. Pasangan kita adalah penghargaan terbesar yang ada dalam diri kita, kita harus selalu menjaganya, merawanya dan menyayanginya. Karena semua orang tau, kamu, aqu tidak bisa berdiri sendiri tanpa kita saling melengkapi, saling menutut..
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. (Hamka)











